Pengen Nangis di Venice.

Setelah mengalami drama ketinggalan kereta seperti dalam tulisan ini, drama-drama lain pun menyertai perjalanan saya selanjutnya. Interior kereta malam yang saya tumpangi berbentuk kabin-kabin dengan masing-masing 6 tempat duduk di dalamnya, berbeda dengan kereta sebelumnya dari Praha ke Wina yang hanya berupa rangkaian gerbong dengan 2 tempat duduk di bagian kanan dan 2 tempat duduk di bagian kiri tanpa kabin.

Malam itu saya satu kabin dengan seorang ibu dan 2 orang remaja laki-laki. Si ibu mencoba ramah dengan mengajak saya mengobrol sepanjang perjalanan, meskipun beliau tidak berbahasa Inggris. Jadilah malam itu kami berkomunikasi ala-ala tarzan. Si ibu dengan bahasa Itali-nya, saya dengan bahasa Inggris yang pas-pasan. Materi obrolan pun yang standar-standar saja: seperti dari mana asalnya, mau ke mana, ngapain ke sana, sama siapa, dan lain-lain. Si Ibu cukup kagum dengan keberanian saya bepergian sendirian, sementara beliau mengatakan bahwa belum pernah travelling kemana-mana, bahkan belum pernah ke Venezia……lah …. orang Italy tapi belum pernah ke Venice

di halaman stasiun kereta Santa Lucia.

di halaman depan stasiun kereta Santa Lucia.

n636208367_414344_9914

Kereta beberapa kali berhenti untuk cek paspor, karena jalur yang dilewati adalah cross country. Sampai di stasiun Venice Mestre (mainland) sekitar pukul 02.00 pagi, sementara hotel yang telah di-booking berada di Venice. Saat itu saya baru menyadari betapa bodohnya sampai ketinggalan kereta, sehingga terpaksa naik kereta malam dan sampai di tujuan pada pagi-pagi buta, di mana sebagian besar transportasi umum sudah tidak beroperasi. Begitu turun dari kereta, rasanya mau menangis dan tidak tau apa yang harus dilakukan melihat lengang dan sepinya stasiun saat itu. Yang terlihat hanya beberapa backpacker yang tidur di beberapa sudut stasiun. Saya tidak bisa membayangkan jika tidak mendapat kendaraan umum atau taksi, mengingat perjalanan tersebut merupakan perjalan ke luar negeri untuk yang pertama kalinya.

Basilica dei Santi Giovanni e Paolo

Basilica dei Santi Giovanni e Paolo

Monument of Bartolommeo Colleoni

Monument of Bartolommeo Colleoni 
Campo dei Santi Giovanni e Paolo

Terus terang saat itu saya tidak punya nyali untuk bermalam di stasiun menunggu pagi. Akhirnya saya memberanikan diri, karena dengan menangis pun tidak akan menyelesaikan masalah, saya komat-kamit berdoa supaya mendapat (wangsit) jalan keluar. Setelah celingak-celinguk beberapa saat, saya menemukan satu-satunya van berwarna putih, semacam mercy-cab di Singapura. Dengan pedenya saya langsung naik dan meminta supir untuk mengantarkan saya ke Venezia Santa Lucia. Alhamdulillah ternyata memang taksi (karena ada argo meter di dalamnya). Perasaan saat itu senang dan lega bercampur aduk jadi satu.

Taksi hanya mengantar sampai pemberhentian terakhir kendaraan darat, yaitu Piazzale Roma. Setelah membayar sesuai argo, supir taksi yang baik hati (lagi pula tidak sombong…) tersebut menunjukkan jalan yang harus saya lalui dengan jalan kaki dengan bahasa Italy sodara-sodara…hahaha…

Piazza San Marco

Piazza San Marco

P1060007

Water Taxi

Gondola

Gondola di dekat Piazza San Marco

Ya, Venice memang bisa dilalui tidak hanya dengan tranportasi air, dengan jalan kaki pun bisa dari dan menuju mainland dengan rute yang lebih panjang dan naik turun puluhan jembatan…hosh….hosh….hosh…(ceritanya ngos-ngosan)

Beruntung 2 orang teman yang lebih dulu sampai Venice menjemput di Piazzale Roma. Kami pun berjalan kaki menuju hotel. Sepanjang perjalanan, setelah sebelumnya meminta maaf atas keterlambatan kedatangan, sambil  menceritakan kebodohan saya kepada mereka, dan kami pun hanya bisa mentertawakan kejadian tersebut.

Jalanan saat itu tidak terlalu lengang, sesekali kami berpapasan dengan gerombolan muda-mudi yang (mungkin) baru pulang dugem. Segala drama yang membuat saya ingin menangis tadi mendadak hilang seketika sesampainya di  hotel dan bertemu dengan teman seperjalanan untuk beberapa hari ke depan.

Grand Canal malam hari

Grand Canal malam hari

Pasar Malam

Pasar Malam

Pasar Malam

Pasar Malam

Paginya saya tidak sempat menikmati keindahan Venice yang merupakan salah satu kota paling romantis di dunia dan masuk ke dalam World Heritage Site ini, karena kami telah membeli tiket kereta untuk one day trip ke Milan. Saya hanya sempat menikmati Vaporetto (transportasi air/angkutan umum) menuju Stasiun Kereta Santa Lucia dan berfoto-foto sejenak sambil menunggu waktu keberangkatan kereta. Keesokan harinya, barulah saya menikmati Venice city tour, seperti ke : Piazza San Marco, Basilica San Marco, Clock Tower, The Grand Canal, Ponte di Rialto (ketemu pak Bondan pun, yay!), Pasar Malam (entah apa namanya), dan beberapa Campo (semacam piazza tetapi lebih kecil)

Suasana jalan di sekitar Venice yang dihubungkan oleh ratusan jembatan.

Suasana jalan di sekitar Venice yang dihubungkan oleh ratusan jembatan.

Calle = Jalan. Jalannya sempit, cenderung seperti gang-gang di perkampungan.

Calle = Jalan.
Jalannya sempit, cenderung seperti gang-gang di perkampungan.

Catatan:

1. Di Venice semuanya serba mahal, dari penginapan, tempat makan, tempat ngopi, dan Gondola Ride. Kalau dana kamu terbatas lebih baik mencari penginapan di Mainland, seperti di Venice Mestre. Mengingat tidak banyak yang bisa di-eksplore di Venice, kecuali kamu pecinta seni, atau ingin merasakan dunia malam (baca: dugem) di club-club yang memang cukup kondang di sana.

2. Hindari makan di tempat-tempat sekitar tourist attraction, karena biasanya selalu ada tambahan charge. Carilah makanan atau jajanan di kios-kios yang banyak terdapat di tempat yang agak masuk ke dalam, ada pizza yang segede-gede gaban, segala jenis roti-rotian, dan gelato.

3. Banyak pilihan transportasi umum dari Venice Mainland menuju Venice, diantaranya: menggunakan kereta dari Stasiun Venice Mestre ke stasiun Venezia Santa Lucia. Atau dari bandara bisa menggunakan bus umum menuju Piazzale Roma dan melanjutkan perjalanan menggunakan Vaporetto. Kalau kamu punya dana lebih, bisa menggunakan Tronchetto (feri gondola) atau Water Taxi.

Advertisements

2 thoughts on “Pengen Nangis di Venice.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s