Buongiorno Milano.

Image

Perjalanan dengan kereta melalui Venezia Santa Lucia ke Milan memakan waktu kurang lebih 2.5 jam. Kami langsung menuju Piazza del Duomo, dimana disekitarnya terdapat bangunan-bangunan tua bersejarah seperti: Katedral Duomo, Galleria Vittorio Emanuele II, Palazzo Meridionale, dan Piazza della Scala yang terkenal dengan Teatro alla Scala, salah satu gedung opera tertua yang melahirkan komposer-komposer terkenal di dunia. Piazza del Duomo ini merupakan salah satu lokasi kunjungan wisata utama di Milan.

Siang itu hari sangat cerah, matahari bersinar namun angin yang berhembus cukup dingin bagi saya yang terbiasa dengan udara iklim tropis. Kami menggunakan kesempatan tersebut untuk bermain-main dengan burung dara yang banyak bertebaran di sekitar piazza, serasa balita yang senang mendapat mainan baru. Setelah puas (baca: capek) bermain kejar-kejaran di piazza, kami masuk (baca: ngadem) ke dalam Galleria Vittorio Emanuele II.

Main sama burung dara...

Main sama burung dara…

Galleria ini merupakan salah satu pusat perbelanjaan mewah seperti Prada, Louis Vuitton, Tod’s, Mercedes Bens, Swarovski,  dll. Mau ngapain ke situ? Belanja? Ya engga juga sih… Di dalamya terdapat sebuah mosaik banteng yang konon apabila kamu berputar menggunakan satu buah tumit kaki sebanyak 3 (tiga) kali tanpa berhenti  tepat diatas alat kelamin si banteng tersebut, maka kamu akan mendapatkan keberuntungan. Kami pun tidak ketinggalan untuk melewatkan kesempatan tersebut. Kenyataannya hanya bisa berputar tanpa berhenti selama 1 (satu) kali…hehehehe… ceritanya ada di sini.

inside the Galleria

inside the Galleria

Milan's Bull

Mosaic of Milan’s Bull

Kami menyempatkan makan siang di salah satu cafe dalam Galleria sambil menikmati lalu lalang orang di dalam Galleria tersebut, entah kenapa sejauh mata memandang gaya berpakaian orang-orang ini sangat stylish. Setelah puas melihat lalu lalang orang yang bak di atas catwalk ini, kami meneruskan perjalanan menuju Piazza della Scala.

Setelah itu kami berjalan menyusuri via Mercanti (via adalah sebutan untuk jalan di Italia, red) menuju Castello Sforzesco (Sforza Castle/Milan Castle). Dari piazza Duomo ini, kita memang bisa berjalan kaki menuju beberapa obyek wisata karena lokasinya berdekatan satu dengan yang lain. Sesekali kami berhenti menikmati penampilan musisi jalanan yang mulai beraksi…kemudian nyanyi lagu KLA Project

Leonardo Da Vinci.

Leonardo Da Vinci.

via Mercanti.

via Mercanti.

Tak lupa pula kami mencicipi aneka jajanan khas Milan yang banyak dijajakan di sepanjang jalan, semacam food truck. Pilihan saya jatuh pada arancini, sejenis nasi isi daging chilli con carne yang kemudian digoreng dengan tepung. Cinta saya pun pada arancini mulai bersemi….tsaaaah

Tips: Buat kamu yang muslim harus rajin bertanya ya, apakah daging yang digunakan itu beef atau pork. Karena biasanya daging yang dipakai lebih banyak pork. Berlaku untuk semua jenis makanan/roti-rotian  yang menggunakan daging.

Castello Sforzesco (Milan Castle)merupakan tempat berkumpulnya penduduk kota Milan, karena di dalamnya terdapat taman yang luas tempat bersantai para remaja maupun keluarga. Kastil ini sendiri memiliki beberapa area yang bisa kita nikmati, baik yang berbayar maupun tidak berbayar.

Food Truck.

Food Truck.

Seperti pada umumnya sebuah kastil, bangunan Castello Sforzesco dikelilingi oleh benteng besar dengan gerbang utama berupa bangunan clock tower yang tinggi menjulang. Setelah berjalan ke arah dalam terdapat Piazza delle Armi. Dari situ kami langsung menuju Parco Simpione (Sempione Park). Taman ini sepertinya merupakan tempat berkumpulnya sebagian besar warga Milan. Di situ kami melihat gerombolan orang yang tengah asik bermain maupun sekedar duduk-duduk di rumput maupun kursi taman.

Milan Castle.

Milan Castle.

Ada pula gerombolan yang sedang berlatih orchestra, karena di area tersebut terdapat beberapa tribun kecil outdoor. Tidak sedikit pula remaja Milan yang bermain skateboard. Sambil menikmati keindahan taman, kami membeli chestnut panggang (karena melihat anak penjual chestnut yang ganteng!) yang banyak dijajakan di sekitarnya. Biji chestnut yang sebesar ruas jari jempol ini rasanya hampir sama dengan biji nangka, rasanya gurih, enak, dan tidak keras, hampir seperti ubi rebus tetapi lebih padat. Sepertinya dimasak dengan cara disangrai (atau oven), ada tekstur gosong di bagian luar, dan disajikan hangat, cocok dijadikan kudapan untuk hawa dingin….

tukang-chesnut

tukang-chesnut

Arch of Peace

Kami meneruskan perjalanan menuju Arco della Pace (Arch of Peace) yang merupakan gerbang Kota Milan. Sungguh indah pemandangan Arco della Pace di kala senja. Lampu-lampu taman yang temaram menambah kecantikannya. Saya merasa seolah-olah sedang di dalam sebuah lukisan seorang maestro. Tak terasa hari pun semakin gelap dan kami harus segera menuju stasiun kereta untuk kembali ke Venice. Setelah seharian berjalan kaki, kami menggunakan transportasi umum tram menuju stasiun Kereta Milano Centrale .

Dalam kereta menuju Venice.

Dalam kereta menuju Venice.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s