Kedinginan di Berlin.

Jadwal penerbangan yang selisih sehari dengan Ayu, teman perjalanan, menyebabkan saya harus tinggal di Venice 1 malam lagi. Sempet bete sampai akhirnya gak sengaja ketemu pak Bondan di Rialto Bridge dan diajak on screen untuk salah satu episode Wisata Kuliner edisi Italy. Yay, senang!…hahaha…

Keesokan paginya saya menyempatkan ke Piazza San Marco dan Grand Canal sekali lagi untuk mengucapkan selamat tinggal, sebelum ke bandara. Dalam perjalanan dari hotel (bisa ditempuh dengan jalan kaki), saya bisa menyaksikan geliat Venice di pagi hari. Melihat ibu-ibu berbelanja di tukang sayur dan tukang ikan, melihat anak-anak berangkat ke sekolah. Tak jauh berbeda dengan rutinitas pagi di Jakarta. Turis pun belum nampak satu pun. Kalau ingin melihat Venice dan ngeliat kegiatan masyarakat sekitar, pagi adalah waktu yang paling tepat.

Shuttle Bus dari Piazzale Roma ke bandara Venice Marco Polo

Shuttle Bus dari Piazzale Roma ke bandara Venice Marco Polo

Stunning view between Venice and Berlin.

Stunning view between Venice and Berlin.
Yang putih-putih di bawah itu salju, yang di pucuk-pucuk pegunungan.
Keliatan gak?

Siangnya setelah check out dari hotel, saya pun berjalan kaki menuju mainland. Entah lah, rasanya tidak ingin segera meninggalkan salah satu kota paling romantis di dunia ini, meskipun saat itu saya seorang diri. Venice cukup menyenangkan untuk jalan kaki kalau punya banyak waktu. Dan yang pasti kamu akan menemukan sesuatu yang unik yang tidak bakal ditemukan apabila menggunakan transportasi air.

Dari Piazzale Roma ke Bandara Venice Marco Polo saya naik shuttle bus. Pesawat menuju Berlin pukul 16.55 waktu setempat. Seperti budget airline pada umumnya boarding gate tidak dicantumkan di boarding pass, makanya mesti sering-sering liat layar yang tersebar di beberapa titik untuk memastikan tidak salah salah gate ketika boarding. Dan satu lagi, tidak ada seat number, jadi mesti berebut kalau ingin mendapat tempat duduk terbaik. Tapi berebutnya tertib kok, nggak pake acara desek-desekan dan dorong-dorongan. Tetap ibu hamil dan yang membawa balita diutamakan untuk masuk duluan.

Beruntung sore itu saya dapat window seat. Pemandangan menuju Berlin cukup menyenangkan karena melewati deretan gunung yang nampak bersalju di beberapa puncaknya.

Brandenburg Gate.

Charlottenburg Palace.

Charlottenburg Palace.
Gak ada tempat buat neduh pun….

Perjalanan selama 2.5 jam tersebut tidak terasa dan sampai lah saya di Bandar Udara Berlin Schoenefeld. Dari bandara, saya naik S-Bahn menuju hostel di daerah Mitte (Central Berlin) yang tidak jauh dari stasiun kereta Alexanderplatz dan dekat dengan beberapa tourist site. Sistem kereta di German ada2, yaitu: S-Bahn untuk jarak jauh dan menggunakan jalur kereta diatas tanah, sedangkan U-Bahn untuk jarak dekat dengan jalur bawah tanah.

Makanan yang sangat terkenal di Berlin adalah Currywurst, sosis dengan bumbu kari. Tetapi Ayu mengingatkan bahwa kemungkinan besar sosisnya adalah babi, jadi saya pun mengurungkan niat untuk menyicipinya. Di Berlin juga mengalami kendala bahasa karena tidak banyak yang menggunakan bahasa Inggris. Jadi kami lebih banyak berbahasa kode untuk berkomunikasi dengan orang-orang.

Reichtag Building

Antrean tetep panjang meskipun ujan…

Reichstag Building

Reichstag Building

Check Point Charlie

Check Point Charlie.
Ujannya gak mau bersahabat…hiks…

Oberbaum Bridge

Berlin Wall. Tembok Berlin

Berlin Wall. Tembok Berlin

Malam itu setelah meletakkan travel bag di hostel, kami langsung berjalan-jalan di sekitar hostel. Melihat katedral, TV Tower, Unter den Linden, dan berjalan-jalan di sekitar Ku’damm. Cukup nyaman jalan-jalan malam hari di Berlin, untuk traveller cewe sekali pun.

Keesokan harinya dengan semangat yang membara kami berencana mengunjungi beberapa tempat, udah bangun pagi, udah dandan cantik, eh tau-tau ujan deres dong…

Museum Island.

Museum Island.

Berlin TV Tower

Berlin TV Tower

Karena hujan tak kunjung berhenti akhirnya kami nekat jalan, dengan harapan ujan akan berhenti. Kami pun sudah siap dengan overcoat dan sepatu boot masing-masing. Ternyata benar, hujan tak mau berhenti hari itu…huhuhu…Dan entah kenapa Berlin saat itu lebih dingin dari kota-kota lain yang saya kunjungi sebelumnya, membuat saya harus memakai baju berlapis-lapis.

 

Tips: Biaya hostel, makan, dan transport di Berlin relatif cukup bersahabat dibanding negara-negara lain yang saya kunjungi sebelumnya.

Advertisements

13 thoughts on “Kedinginan di Berlin.

  1. Win…masih inget aku…kayaknya asik jalan2 kamu…ajak aku dong…aku penyuka jalan2 dan mulai anti pake travel…cuma ya itu, nyaliku masih imuttttt…info aku kl ngeplan lagi yaaa…aku pingin banget ke eropa timur…tengkiuuuu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s