Jatuh Cinta Di Paris.

Paris

a must taking picture. LOL

Hal yang tidak mengasyikkan dari perjalanan yang sudah terjadwal adalah cuaca yang tak terduga. Ketika kamu tiba di daerah tujuan dan ternyata hujan turun seharian, itu akan mengacaukan segala yang telah direncanakan. Sama ketika saat ke Berlin waktu itu. Tidak banyak yang bisa saya lihat, karena hujan tidak mau bersahabat. Apa boleh buat, the show must go on, rite? Tiket pesawat sudah dibeli, hotel pun sudah dipesan. Afaik, negara tujuan berikutnya adalah PARIS, PERANCIS! Yay…

Paris Je t’aime. Ya, saya telah jatuh cinta pada Paris untuk pertama kalinya begitu menginjakkan kaki di bandara Orly. Kami tidak berlama-lama di bandara, karena ingin segera bertemu The Lady Iron. Setelah mengambil brosur-brosur semacam map, transportation, dan tourist attraction di bagian informasi, kami bergegas naik kereta ke hostel untuk meletakkan barang-barang bawaan. Hari masih pagi saat itu.

Champs Elysee

Avenue des Champs Elysees dari Place de la Concorde

Dari transportation map yang kami ambil, diketahui bahwa pembagian tarif Metro (angkutan umum berupa kereta jalur bawah tanah untuk tujuan dalam kota) dibagi dengan zona 1, 2, 3, 4, dan 5. Zona 1 dan 2 adalah yang paling murah karena masih masuk dalam hitungan dalam kota atau city center. Sedangkan zona 4 dan 5 adalah yang termahal, karena jaraknya cukup jauh. Hostel tempat kami menginap masih berada dalam zona 1. Namun demikian tetap saja mata kami jereng mencarinya karena bukan dalam jalur utama, terutama untuk saya yang belum terbiasa dengan sistem transportasi seperti ini. Meski juga bukan hal baru, karena sudah beberapa kali menggunakan MRT di Singapura.

Saat itu kami belum membuat rencana mau kemana saja dan kami hanya punya waktu 3 hari 2 malam. Setelah meletakkan barang kami memutuskan untuk ke tourism board untuk bertanya-tanya dan memilih untuk mengikuti city tour atau jalan sendiri.

Agak tricky memang kalau kita tiba di suatu daerah yang belum terbiasa dengan sistem transpotasi umumnya. Kita mesti jeli membaca peta supaya tidak salah ambil jurusan. Dan membaca peta yang cukup rumit pasti akan menyita waktu. Seperti saat kami mencari Kantor Tourism board. Tau alamatnya, tau harus naik metro nomer berapa, tetapi tetap saja muter-muter gak ketemu juga dengan jalan kaki dari stasiun metro. Hingga saat ketemu, hari sudah gelap dan kantornya pun sudah tutup…nasib, nasib…

Akhirnya setelah melihat peta kembali, kami berada di sekitar daerah Opera dan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitarnya setelah makan chinese food di (seberang) Hard Rock Cafe.

opera

Metro Opera

Bioskop

Judul film diganti bahasa Perancis semua…

Besoknya kami berangkat dari hostel pagi-pagi sekali, karena kami ingin ke Chateau de Versilles. Kami memutuskan tidak mengikuti paket one day tour karena Versailles tidak termasuk. Sebelumnya kami ke Basilica de Sacre Coeur terlebih dahulu karena dilihat dari peta, jaraknya cukup dekat dengan tempat menginap dan bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Meski dekat dengan tempat menginap, jalan ke arah Sacre Coeur ini menanjak, men! Lumayan buat olah raga pagi-pagi. Letaknya memang di wilayah Paris atas, semacam Dago Atas-nya Bandung. Kamu bisa naik funiculaire (cable car/kereta untuk jalur menanjak) untuk menuju pintu masuk basilica, yang tiketnya bisa di beli di tempat atau bisa langsung memakai tourist pass. Dari pelataran Basilica ini, kamu bisa melihat keindahan kota Paris secara keseluruhan. Stunning!

Setelah puas melihat-lihat keindahan Basilica de Sacre Coeur ini, kami ke Montmatre yang tidak jauh dari situ. Melihat-lihat sejenak karya seni dari seniman jalanan Paris. Dari situ barulah kami menuju Versailles. Kami harus naik RER karena letaknya berada di zona 4. RER ini adalah kereta bertingkat (double decker) yang berjalan di jalur atas tanah, tidak seperti Metro yang menggunakan jalur bawah tanah.

Karena menenempuh jarak yang lumayan jauh, kami melilih duduk di deck bagian atas, supaya lebih leluasa juga melihat pemandangan. Tapi apa daya, karena kelelahan-akibat-olah-raga-pagi-naik-naik-ke-puncak-Sacre-Coeur-tadi-pagi, sesampainya di dalam kereta kami langsung tertidur. Bangun-bangun ketika ada pemeriksaan tiket dari petugas kereta. Tau apa yang terjadi sodara-sodara? Kami salah ambil jalur RER! Huhuhuhu… Kereta yang kami ambil benar, tetapi bukan menuju ke Versailles, tetapi menuju ke arah sebaliknya…huhuhu…

Akhirnya kami segera turun di pemberhentian berikutnya (yang sialnya adalah pemberhentian terakhir) dan berpindah jalur. Sekali lagi waktu kami terbuang sia-sia, meskipun sudah berusaha berangkat sepagi mungkin dari tempat penginapan. Awalnya bete, sampai akhirnya kami berdua menertawakan kebodohan yang baru saja terjadi dan tertawa di sepanjang jalan ketika mengingatnya.

Istana

Istana Versailles ini gede banget.
Ini baru sisi sebelah kanan aja, dari gerbang masuk

Karena diburu waktu, napsu ingin ke banyak tempat, kami tidak berlama-lama di Chateau de Versailles, tempat kediaman Marie Antoinette itu. Kami tidak sempat ke tamannya yang terkenal akan keindahannya. Someday i will.

Dari situ kami menuju Menara Eiffel. Dari pintu keluar stasiun Metro, ujung menara sudah nampak, tetapi rasanya kami tidak sampai-sampai di bangunan besi tertinggi paling romantis di dunia ini. Sistem gedung yang dibangun berdasarkan blok-blok di sekitar wilayah Paris ini, seolah membuat kita sedang berjalan di sebuah labirin tak berujung. Dalam hati, ya Allah pengin menginjakan kaki di menara Eiffel aja susahnya setengah mati…hahaha…

Siang itu Eiffel ramai sekali oleh turis dari berbagai macam negara, antrean untuk naik ke atas pun mengular. Baik di loket tiket dan pintu masuk. Oh iya, untuk naik ke atas menara, kita harus membeli tiket terlebih dulu. Harus berhati-hati di kompleks menara Eiffel ini, karena konon banyak copet yang berkeliaran dan banyak pengemis juga. Pengemisnya jangan dibayangkan berpakaian compang-camping seperti di Jakarta. Pakaiannnya necis, hampir sama dengan pakaian pengunjung, lengkap dengan overcoat (jaket/jas panjang/baju musim dingin) bedanya cuma terlihat lusuh dan kotor semacam tidak dicuci berminggu-minggu.

menara Eiffel

fokuskan pada antrean yang panjang, jangan yang photo bomb di depannya…hehehe…

Basilica

Basilica de Sacre Coeur

Setelah puas berfoto-foto, kami menuju ke tugu Place de La Concorde, berjalan sepanjang avenue des Champs Elysees menuju Arch du Triomph. Karena hari hampir gelap, kami bergegas menuju Louvre. Drama labirin pun kembali terjadi di sini. Kali ini bukan di blok-blok gedung melainkan di area underground.  Kami turun tepat di bawah stasiun metro Louvre, tapi setelah berputar-putar, pintu keluar tidak kunjung kami temukan. Akhirnya kami memutuskan naik metro dan turun pada pemberhentian berikutnya untuk bisa masuk ke Louvre dari luar. I KNOW RITE…hahaha…

Akhirnya saya bisa melihat bangunan kaca segitiga di Louvre tepat saat matahari hampir tenggelam, dan langit pun menampakkan semburatnya yang kemerahan. What a view! Cantik banget.

Meskipun hari sudah gelap, semangat menjelajahi Paris masih sangat membara. Kami menuju ke Notre Dam. Heran juga sih, sudah malam tetapi pengunjung masih saja ramai. Setelah puas berfoto-foto sejenak, kami berjalan ke arah jembatan di atas sungai Seine di dekat Notre Dam, melihat-lihat Bateaux tour melintas, dan menikmati kopi panas di cafe-cafe yang banyak terdapat di sekitarnya.

Ayu kembali ke London pada keesokan pagi, sementara saya masih ada setengah hari karena flight kembali ke Jakarta pukul 14.00. Pagi itu saya gunakan kesempatan untuk ke le Grand Arch dan ke Chateau de Vinceness.

Paris telah membuat saya jatuh cinta dan saya ingin mengunjungi Paris kembali someday. I will.

louvre

Dawn at Louvre.

Penting:

  1. Untuk transportasi angkutan umum dalam kota tersedia paket tourist pass yang bisa dibeli di semua stasiun Metro atau di tourist information counter, tinggal sesuaikan dengan kebutuhan/masa tinggalmu di Paris.
  2. Untuk Chateau de Versailles, karena lokasinya yang cukup jauh, idealnya menyiapkan waktu satu hari untuk menjelajahi istana ini.
  3. Harap berhati-hati terhadap barang bawaan di lokasi yang banyak didatangi turis seperti Menara Eiffel, Montmartre, dan Notre Dam, banyak pengemis dan copet yang berkeliaran.
  4. Penduduk Paris tidak banyak yang bisa berbahasa Inggris, bahkan petugas informasi sekalipun. Siap-siap berbahasa tarzan. Namun mereka cukup mengerti apabila kita bertanya dalam bahasa Inggris.
  5. Hati-hati menyeberang di jalanan Paris, mobil dan motor-motornya ngebut, mungkin cita-cita mereka jadi pembalap.
Advertisements

4 thoughts on “Jatuh Cinta Di Paris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s